Cincau susu Fong Ip Cafe
Thursday, January 14, 2010
Kota Kinabalu: Intermezo
Salah satu minuman paling berjasa dalam kehidupan kami berdua selama di Kota Kinabalu
Wednesday, January 13, 2010
Kota Kinabalu: A New Way to Smoke Cigarettes
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
Berawal dari susahnya Indrawan berhenti dari kebiasaan yang satu ini, dan kemudian harga rokok yang mahal, maka munculah alternatif ini..
Keuntungannya,
selain tembakau ini beraroma kopi, untuk membuat satu rokok membutuhkan waktu sekitar satu sampai satu setengah menit,..jadi...semakin sedikit pula dia merokok..
yay!
Gaya Street, Fong Ip cafe
Berawal dari susahnya Indrawan berhenti dari kebiasaan yang satu ini, dan kemudian harga rokok yang mahal, maka munculah alternatif ini..
Tadaaaa!!
Membuat rokok sendiri
Keuntungannya,
selain tembakau ini beraroma kopi, untuk membuat satu rokok membutuhkan waktu sekitar satu sampai satu setengah menit,..jadi...semakin sedikit pula dia merokok..
yay!
Tuesday, January 12, 2010
Kota Kinabalu: Asia Adventure Lodge
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat (lebih) gelap
Dan ternyata memang kami tidak berpidah dari penginapan ini semenjak hari pertama kami datang ke Kota Kinabalu.
Terletak di jalan Gaya, dengan empat puluh ringgit semalam bisa mendapatkan ; handuk bersih, selimut (yang perbedaannya dengan handuk hanya berdasar ukuran saja), french toast dengan kopi panas untuk sarapan dan air panas untuk mandi..
ahay!
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat (lebih) gelap
Dan ternyata memang kami tidak berpidah dari penginapan ini semenjak hari pertama kami datang ke Kota Kinabalu.
Terletak di jalan Gaya, dengan empat puluh ringgit semalam bisa mendapatkan ; handuk bersih, selimut (yang perbedaannya dengan handuk hanya berdasar ukuran saja), french toast dengan kopi panas untuk sarapan dan air panas untuk mandi..
ahay!
pemandangan dari balik jendela di kamar nomor tiga
kumpulan bawaan kami yang memenuhi satu bunk bed
saat malam hari dengan bantuan lampu jalan
kamar nomor lima, sebelum kami memutuskan pindah ke kamar nomor tiga,
tanpa AC namun berjendela
mencoba peruntungan dengan mengais ngais wi-fi bocor
Ps. Penginapan ini ditutup pukul setengah satu malam dengan pemilik penginapan, seorang wanita paruh baya keturunan Philipina, tidur tepat di bawah meja resepsionis untuk menjaga pintu.Meninggalkan rasa bersalah yang amat sangat saat pulang larut dan mendapati beliau muncul dari balik meja dengan rambut terburai (dalam mode slow motion)
Kota Kinabalu: Lodge
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat gelap
Mungkin itu adalah kalimat yang memandu perjalanan dan memacu semangat kami mencari hotel murah selama di Kota Kinabalu.
Sebenarnya kami sudah duduk manis di dalam Hotel murah meriah berjudul 'Asia Adventure Lodge' dengan harga empat puluh ringgit semalam.
Tapi tentu,.. belum puas rasanya kalau belum menyisir kota (halah)
Kesimpulan,
Pertama, jangan pernah menjadikan buku pedoman bepergian sebagai kitab suci.
Meskipun itu adalah buku panduan bepergian paling yahud saat ini.
Karena kenyataannya harga-harga disana seringkali sudah naik bahkan hampir lima puluh persen, tapi tentu, tempat yang dianjurkan disana adalah tempat yang bisa dikatakan hampir pasti nyaman a.k.a layak huni
Kedua, terima saja kenyataan bahwa kita tidak bisa memiliki semuanya sekaligus.
Jendela, kamar mandi layak pakai, dinding bebas jamur, kasur yang masih terbungkus sempurna, akses dekat jalan raya, dan harga murah..
Ketiga, terima kasih atas pengertiannya meninggalkan Kasymir .. T.T
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat gelap
"Hotel murah hidup meriah"
-indrawan prabaharyaka
Mungkin itu adalah kalimat yang memandu perjalanan dan memacu semangat kami mencari hotel murah selama di Kota Kinabalu.
Sebenarnya kami sudah duduk manis di dalam Hotel murah meriah berjudul 'Asia Adventure Lodge' dengan harga empat puluh ringgit semalam.
Tapi tentu,.. belum puas rasanya kalau belum menyisir kota (halah)
dragon inn pt.I
salah satu penginapan paling murah yang kami jumpai,
sekitar 25 MYR/malam,
namun juga yang paling menyeramkan
dragon inn pt.II
Kotak surat di lantai bawah
Ruby inn
menurut salah satu sumber merupakan
hotel tempat bertemunya 'para binan' Kota Kinabalu
Aminah Inn
eerrrhh...lupa..
Ini bagian belakang hotel,..
caranya menjemur sprei justru membuat kami tertarik untuk masuk..hahay
Federal inn
Fine Bay Hotel
Victoria Hotel
Penginapan yang mirip PMI
Kasymir Rest House pt.I
salah dua penginapan paling murah yang kami jumpai,
tersedia berbagai pilihan,
mulai dari 35 sampai 18MYR..
Sayang sekali kamarnya tidak diabadikan *nyengir
Kasymir Rest House pt.II
tangga menuju kamar di lantai tiga..hampir tersesat
Summer Lodge Inn
Tetangga penginapan kami ..
Kesimpulan,
Pertama, jangan pernah menjadikan buku pedoman bepergian sebagai kitab suci.
Meskipun itu adalah buku panduan bepergian paling yahud saat ini.
Karena kenyataannya harga-harga disana seringkali sudah naik bahkan hampir lima puluh persen, tapi tentu, tempat yang dianjurkan disana adalah tempat yang bisa dikatakan hampir pasti nyaman a.k.a layak huni
Kedua, terima saja kenyataan bahwa kita tidak bisa memiliki semuanya sekaligus.
Jendela, kamar mandi layak pakai, dinding bebas jamur, kasur yang masih terbungkus sempurna, akses dekat jalan raya, dan harga murah..
Ketiga, terima kasih atas pengertiannya meninggalkan Kasymir .. T.T
Monday, January 11, 2010
Kota Kinabalu: Borneo 1945 Museum Cafe
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Borneo 1945 Museum Cafe
Saat makan malam
Terdengar keren ya?
Sayangnya ini bukan museum yang sebenarnya.
Ini adalah kopitiam kecil yang ditemukan secara tidak sengaja karena dorongan perut dan koneksi internet.
Berukuran sekitar tiga puluh meter persegi mungkin,
dan kami memilih duduk di meja kayu luar ruangan.
Ditemani rintik-rintik hujan dan kedai-kedai yang sudah tutup..heu
Kami memilih untuk berhemat dengan memesan french toast dan telur setengah matang,
merupakan set menu paling murah yang ditawarkan.
Kemudian tentunya secangkir teh tarik panas untuk menghangatkan malam...
It started over coffee,
we started out as friends
It's funny how from simple things
the best things begin..
[Adams, Bryan; Hamlisch, Marvin; Lange, Robert John; Streisand, Barbra]
Borneo 1945 Museum Cafe
Saat makan malam
Terdengar keren ya?
Sayangnya ini bukan museum yang sebenarnya.
Ini adalah kopitiam kecil yang ditemukan secara tidak sengaja karena dorongan perut dan koneksi internet.
Berukuran sekitar tiga puluh meter persegi mungkin,
dan kami memilih duduk di meja kayu luar ruangan.
Ditemani rintik-rintik hujan dan kedai-kedai yang sudah tutup..heu
Kami memilih untuk berhemat dengan memesan french toast dan telur setengah matang,
merupakan set menu paling murah yang ditawarkan.
Kemudian tentunya secangkir teh tarik panas untuk menghangatkan malam...
tempat berteduh
teman berceloteh
roti panggang dan teh panas
.i could not ask for more :)
Selamat menghirup udara Ibukota Sabah
It started over coffee,
we started out as friends
It's funny how from simple things
the best things begin..
[Adams, Bryan; Hamlisch, Marvin; Lange, Robert John; Streisand, Barbra]
Menumbok - Kota Kinabalu: Seratus enam puluh menit
Kota Kinabalu,
11 Januari 2010
Akhirnya meninggalkan Negeri Minyak dan mencapai Kota Kinabalu setelah tiga jam terayun di lautan dengan ferry bernama Shuttle Hope.
11 Januari 2010
Akhirnya meninggalkan Negeri Minyak dan mencapai Kota Kinabalu setelah tiga jam terayun di lautan dengan ferry bernama Shuttle Hope.
Kapal ini baru saja di beli dari Jepang beberapa bulan yang lalu.
Dan memiliki toilet yang luar biasa rapi,
mungkin karena itu dinamakan Shuttle Hope
memberikan sinar harapan bagi para pecinta toilet kapal
*halah
Namun toilet ini menarik perhatian saya sejak pertama kali membuka pintunya,
dua kubikal, satu basin dan satu shower lengkap dengan tirainya
(seriusan!)
teman-teman baru kami,
mas-mas Jawa (lagi)
Mas yang satu ini, sudah melanglang buana ke China, Jepang dan Korea..heu
Selamat datang di Shuttle Hope!
didalam kami pun bisa berselonjor ria sambil menonton film Jepang picisan
(bari tetap meneteskan air mata..)
Sunday, January 10, 2010
Bandar Seri Begawan: Kampung Ayer
Kampung Ayer,
sore terakhir di Bandar Seri Begawan
Kami akhirnya berhasil menaiki taksi air yang sebelumnya saya ceritakan.
Dibutuhkan sekitar lima belas dollar Brunei untuk berkeliling Kampung Ayer, sekitar seratus ribu rupiah.
Kapal kecil yang kami tumpangi membelah air dengan sempurna, dan saya mulai berimajinasi apa yang akan saya lakukan bila kamera yang saya pegang jatuh kedalam air.
Rasa ingin mati saja.
Kata Indrawan otak saya penuh dengan dunia fiksi..hahay.
Dan inilah Kampung Ayer..sebuah kampung terapung dengan lahan parkir sebesar Bandung Supermall.
Semoga kalian melahirkan anak-anak yang sehat dan senang bersepeda.
Tentu menyenangkan melihat mereka berlarian disini..
plung!
Lalu
Cerita sebenarnya tentang Kampung Ayer dari lensa matamu disini
sore terakhir di Bandar Seri Begawan
Kami akhirnya berhasil menaiki taksi air yang sebelumnya saya ceritakan.
Dibutuhkan sekitar lima belas dollar Brunei untuk berkeliling Kampung Ayer, sekitar seratus ribu rupiah.
Kapal kecil yang kami tumpangi membelah air dengan sempurna, dan saya mulai berimajinasi apa yang akan saya lakukan bila kamera yang saya pegang jatuh kedalam air.
Rasa ingin mati saja.
Kata Indrawan otak saya penuh dengan dunia fiksi..hahay.
Dan inilah Kampung Ayer..sebuah kampung terapung dengan lahan parkir sebesar Bandung Supermall.
Semoga kalian melahirkan anak-anak yang sehat dan senang bersepeda.
Tentu menyenangkan melihat mereka berlarian disini..
plung!
Lalu
Cerita sebenarnya tentang Kampung Ayer dari lensa matamu disini
diambil oleh anugrah tangke.terimakasih banyak.
Selamat tinggal Bandar Seri Begawan
Hasta la vista
Bandar Seri Begawan: Rukiah binti Abdullah
Suatu waktu di pasar Kianggeh,
"Kemari"
Nenek mungil itu memanggil saat menangkap baah saya mengambil gambarnya dengan kamera.
"Nak tengok.."
Ternyata beliau ingin melihat hasilnya,
"Cantik kan makcik?"
"Hehe.. iya cantik,
Nanti boleh kamu cucikan lalu bagi dekat sini?"
Beliau seorang mualaf, ayahnya seorang China dan suaminya sudah meninggal.
Setiap harinya berjualan sayur di Pasar Kianggeh dengan sewa 175 dollar Brunei setahun.
"Kemari"
Nenek mungil itu memanggil saat menangkap baah saya mengambil gambarnya dengan kamera.
"Nak tengok.."
Ternyata beliau ingin melihat hasilnya,
"Cantik kan makcik?"
"Hehe.. iya cantik,
Nanti boleh kamu cucikan lalu bagi dekat sini?"
Beliau seorang mualaf, ayahnya seorang China dan suaminya sudah meninggal.
Setiap harinya berjualan sayur di Pasar Kianggeh dengan sewa 175 dollar Brunei setahun.
Mengucap salam pada Rukiah binti Abdullah
"Mata saya sudah tidak dapat melihat dengan jelas"
Salah satu jualan Ibu Rukiah
"Bawa ini pulang untuk masak"
"Panggill Nini bukan Makcik"
Sunrise doesn't last all morning,
a cloudburst doesn't last all day.
Seems my love is up
and has left you with no warning.
But it's not always going
to be this grey.
a cloudburst doesn't last all day.
Seems my love is up
and has left you with no warning.
But it's not always going
to be this grey.
-georgeharisson-
Teringat almarhumah nenek saya tercinta, Siti Roekijah
Bandar Seri Begawan: Glad All Over
Merupakan catatan terakhir tentang Bandar Seri Begawan.
Setidaknya itulah yang harus saya lakukan secepatnya, kalau tidak ingin menjadi berlarut-larut.
Pelajaran yang bisa diambil adalah: jangan malas.
hahay...
Hal-hal menarik yang terlupakan akan bisa di tambal sulam belakangan, dan semoga tidak ada yang terlewatkan.
Indrawan menghabiskan waktunya dengan melakukan riset mini mengenai imigran di Sabah (saya menulis ini disebuah kopitiam di Kota Kinabalu,...iya ..kami sudah sampai disini!)
dan saya sebagai seksi dokumentasi yang pemalas, hanya bisa menganggu kegiatan risetnya dengan terus menerus merongrong,
"Serius amat sih.."
hehe..
maafkan suamiku.
Hasil tulisannya bisa dilihat disini
Catatan kali ini bercerita tentang Kampung Ayer (baca : Kampung Air) dan Pantai Muara (saya hampir lupa kami pernah pergi ke pantai).
Pantai Muara
Jangan berharap menemukan pantai yang biru kehijauan dengan coral dan aneka satwa laut bertebaran.
Sejauh ini tidak ada pantai seperti itu di Brunei Darussalam,
teringat Pulau Mabul saat saya berkunjung kesana tahun lalu terus terang tadinya
saya agak berharap banyak dari daerah utara khatulistiwa ini.
Setidaknya itulah yang harus saya lakukan secepatnya, kalau tidak ingin menjadi berlarut-larut.
Pelajaran yang bisa diambil adalah: jangan malas.
hahay...
Hal-hal menarik yang terlupakan akan bisa di tambal sulam belakangan, dan semoga tidak ada yang terlewatkan.
Indrawan menghabiskan waktunya dengan melakukan riset mini mengenai imigran di Sabah (saya menulis ini disebuah kopitiam di Kota Kinabalu,...iya ..kami sudah sampai disini!)
dan saya sebagai seksi dokumentasi yang pemalas, hanya bisa menganggu kegiatan risetnya dengan terus menerus merongrong,
"Serius amat sih.."
hehe..
maafkan suamiku.
Hasil tulisannya bisa dilihat disini
Catatan kali ini bercerita tentang Kampung Ayer (baca : Kampung Air) dan Pantai Muara (saya hampir lupa kami pernah pergi ke pantai).
Pantai Muara
Jangan berharap menemukan pantai yang biru kehijauan dengan coral dan aneka satwa laut bertebaran.
Sejauh ini tidak ada pantai seperti itu di Brunei Darussalam,
teringat Pulau Mabul saat saya berkunjung kesana tahun lalu terus terang tadinya
saya agak berharap banyak dari daerah utara khatulistiwa ini.
Kelakuan standar orang di pantai pt.I
Kelakuan standar orang di pantai pt.II
Bandar Seri Begawan: Sungai Kianggeh dan teman-teman
Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam
Kamar Jalu, Kampung Mata–Mata ,
10 Januari 2010
11.40 pm
Ini akumulasi perjalanan yang dimulai sejak pertama kali kami menginjakan kaki di Bandar Seri Begawan.Yang dituliskan sembarangan dan seringkali terlupakan karena kepala terlanjur menyentuh bantal.heu
Sungai Kianggeh
Pertama kali mencapai Bandar dan dihadapkan pada larangan merokok di seluruh penjuru membuat Indrawan memutuskan kami harus secepatnya mencari udara segar.
Dari terminal bus Bandar, kami berjalan ke arah waterfront Sungai Kianggeh.
Indrawan mengambil spot di depan bioskop yang sudah almarhum untuk merokok, sedangkan saya memutuskan berputar menyusuri sungai.
Atau tepatnya diungsikan dengan halus oleh sang suami,
“Sana, senang-senang ambil gambar!”
Pasar Sungai Kianggeh
Jualan utamanya adalah ikan kering,
Terletak di tepi Sungai Kianggeh pasar ini selalu ramai dikunjungi, terima kasih kepada taksi air yang selalu setia menanti.
Kecapaian kami lalu duduk di belakang kedai ikan kering, membeli satu kaleng cincau dan digigit semut merah sampai gatal-gatal
hue.hehe....
Indrawan agak cemberut setelah dipaksa berfoto di depan kelenteng dengan timer.
Perutnya masih sakit, sejak mencapai Brunei Indrawan terserang nyeri lambung terus menerus setiap hari
Kamar Jalu, Kampung Mata–Mata ,
10 Januari 2010
11.40 pm
Ini akumulasi perjalanan yang dimulai sejak pertama kali kami menginjakan kaki di Bandar Seri Begawan.Yang dituliskan sembarangan dan seringkali terlupakan karena kepala terlanjur menyentuh bantal.heu
Sungai Kianggeh
Pertama kali mencapai Bandar dan dihadapkan pada larangan merokok di seluruh penjuru membuat Indrawan memutuskan kami harus secepatnya mencari udara segar.
Dari terminal bus Bandar, kami berjalan ke arah waterfront Sungai Kianggeh.
Indrawan mengambil spot di depan bioskop yang sudah almarhum untuk merokok, sedangkan saya memutuskan berputar menyusuri sungai.
Atau tepatnya diungsikan dengan halus oleh sang suami,
“Sana, senang-senang ambil gambar!”
dilarang merokok disini, indrawan pun mengungsi
Sungai Kianggeh dan taksi air menuju Kampung Ayer
Pasar Sungai Kianggeh
Jualan utamanya adalah ikan kering,
Terletak di tepi Sungai Kianggeh pasar ini selalu ramai dikunjungi, terima kasih kepada taksi air yang selalu setia menanti.
Berbagai makanan laut kering ada disini
dan ternyata juga menjual ini
Penjual sayur ini mungkin seumur dengan adik saya yang paling kecil
dan dia ternyata pandai menggambar
Menunggu keringat kering di bawah pohon
"taruhan..pasti dia orang Philipina.."
Kecapaian kami lalu duduk di belakang kedai ikan kering, membeli satu kaleng cincau dan digigit semut merah sampai gatal-gatal
Kompleks Pekuburan
Indrawan mengajak saya menyusuri pekuburan yang terletak di dalam pasar.
Dan mengambil gambarnya bukanlah pekerjaan yang terlalu menyenangkan.
Indrawan mengajak saya menyusuri pekuburan yang terletak di dalam pasar.
Dan mengambil gambarnya bukanlah pekerjaan yang terlalu menyenangkan.
Kompleks pekuburan ini terletak tepat di belakang pasar,
dikelilingi pagar setinggi kurang lebih lima kaki yang tidak terkunci
Pekuburan yang sama, dilihat dari tempat yang lebih tinggi
Tempat yang lebih tinggi?
maksud saya, pekuburan lain yang lebih tinggi.
(dan orang yang bertanggung jawab mengajak saya naik kemari..T.T)
maksud saya, pekuburan lain yang lebih tinggi.
(dan orang yang bertanggung jawab mengajak saya naik kemari..T.T)
Yang lebih tinggi pt.I
Yang lebih tinggi pt.II
Kelenteng
“Bun, Saya punya teori baru, bahwa kelenteng itu akan dekat dengan pasar”
Dan ini adalah kelenteng yang terletak tepat di depan Pasar Sungai Kianggeh.
Salah satu hal yang memicu kalimat Indrawan di atas.
“Bun, Saya punya teori baru, bahwa kelenteng itu akan dekat dengan pasar”
Dan ini adalah kelenteng yang terletak tepat di depan Pasar Sungai Kianggeh.
Salah satu hal yang memicu kalimat Indrawan di atas.
pintu utama kelenteng "Hall of Flying Clouds"
yang ternyata merupakan hasil relokasi di tahun 1960
dan dibelakangnya adalah gedung parkir tujuh lantai
hue.hehe....
Indrawan agak cemberut setelah dipaksa berfoto di depan kelenteng dengan timer.
Perutnya masih sakit, sejak mencapai Brunei Indrawan terserang nyeri lambung terus menerus setiap hari
(dan ternyata sembuh setelah kami mencapai Kota Kinabalu, Sabah..hem)
Two drifters off to see the world,
there's such a lot of world to see.
We'er after the same rainbows end,
and waiting round the bend,
my huckleberry friend, Moon River, and me
there's such a lot of world to see.
We'er after the same rainbows end,
and waiting round the bend,
my huckleberry friend, Moon River, and me
-sinatra-
Subscribe to:
Posts (Atom)






























































