Quezon City, Metro Manila
Metro Room# 102
KG Street, Kamias
Pertama kali sampai di Quezon City, Metro Manila, pada pukul 7 malam.
Jalanan masih dipenuhi jeepney, bus, dan manusia – dua orang di antaranya adalah kami.
Hari yang terlanjur gelap untuk berputar-putar mencari tempat penginapan murah. Kami hanya mengandalkan alamat yang direferensikan dari internet di daerah Kamias, salah satu pasar tradisional di Filipina. Cukup mengagetkan karena polisi ataupun satpam selalu ada di hampir setiap 5 meter. Legenda urban mengatakan bahwa Metro Manila tidak begitu aman – sarang pencopet, teroris, dan kriminalitas – sehingga membutuhkan setidaknya seorang petugas keamanan, bahkan, untuk sebuah kios kelontong 7-11.
Ternyata kami beruntung, salah satu petugas keamanan tersebut mampu berbicara dalam bahasa Inggris. “Just go straight and turn left, you will find K-G street”, dia mengarahkan jalan menuju hostel pada kami dengan bahasa Inggris yang sangat baik dan dimengerti.
Sesampainya di penginapan – selesai mendaftarkan diri dan menyimpan lebih dari 30 kilogram barang bawaan – kami memaksakan diri untuk mengenali daerah di sekitar hostel dan melepaskan ketakutan dari legenda urban Metro Manila yang terlampau mencekam dengan menyusuri remang-remang pasar, pedagang kaki lima, dan jalur MRT, sekaligus mencari makan malam pengganjal perut yang telah bersuara kelaparan.
Perlahan kami berbicara dengan diri sendiri bahwa legenda urban tersebut tidak sepenuhnya benar. Pasar yang kami lalui adalah pasar dengan rupa yang sama dengan pasar-pasar di Indonesia tetapi tidak lebih becek dan menjual alkohol dengan terbuka dengan harga yang, cukup, miring. Pedagang kaki lima menjajakan berbagai makanan, mulai dari kacang-kacangan, soto tahu dan babi, hingga pizza dengan harga yang tentu saja jauh lebih murah. Lalu tentang MRT, kami merasa malu dengan kenyataan bahwa Indonesia belum memiliki kendaraan umum semacam ini dibandingkan dengan Manila (ataupun Bangkok).
Di atas itu semua, bagi saya yang dilahirkan dan tinggal di Jakarta, Quezon City terasa seperti rumah kedua.
Tuesday, January 19, 2010
Metro Manila: Bukaan Satu, Mabuhay!
Quezon City, Metro Manila
Metro Room# 102
KG Street, Kamias
Apa yang luar biasa tentang Metro Manila?
Cuplikan posting kali ini adalah catatan singkat untuk mengenang dan memutar kembali ingatan perjalanan kami. “Kita susuri Borneo perlahan-lahan, mulai dari Pontianak sampai Kota Kinabalu. Sesampainya di Manila, kita akan merencanakan kembali sampai sejauh apa kita akan berjalan”, begitu simpul celoteh kami di satu malam di bulan November.
Perjalanan dimulai dari Terminal Dua, Kota Kinabalu.
Seperti biasa, layanan untuk penerbangan 'kelas dua' dibedakan dengan jarah tempuh yang cukup jauh dengan terminal utama.
Dengan pakaian terbaik yang kami miliki saat itu (bahkan kami memakai sepatu!), kami menuju bagian imigrasi dengan percaya diri berharap tidak dipersulit masuk Manila yang katanya mengharuskan return ticket untuk setiap warga negara asing yang masuk.
Diatas segalanya, ini adalah pertama kalinya kami terbang berdua,
tidak sabar menanti untuk yang ke dua, ketiga dan seribu empat puluh tiga kalinya..
Metro Room# 102
KG Street, Kamias
Apa yang luar biasa tentang Metro Manila?
Cuplikan posting kali ini adalah catatan singkat untuk mengenang dan memutar kembali ingatan perjalanan kami. “Kita susuri Borneo perlahan-lahan, mulai dari Pontianak sampai Kota Kinabalu. Sesampainya di Manila, kita akan merencanakan kembali sampai sejauh apa kita akan berjalan”, begitu simpul celoteh kami di satu malam di bulan November.
Perjalanan dimulai dari Terminal Dua, Kota Kinabalu.
Seperti biasa, layanan untuk penerbangan 'kelas dua' dibedakan dengan jarah tempuh yang cukup jauh dengan terminal utama.
Dengan pakaian terbaik yang kami miliki saat itu (bahkan kami memakai sepatu!), kami menuju bagian imigrasi dengan percaya diri berharap tidak dipersulit masuk Manila yang katanya mengharuskan return ticket untuk setiap warga negara asing yang masuk.
system down sehingga boarding pass kami ditulis dengan tangan
pose batuk berdahak
akhirnya tas seberat empat belas kilo itu bisa ditaruh juga..fuih!
ini dia,..low cost terminal carrier untuk Manila.
selamat sampai tanpa tiket keluar Philipina
hanggar pesawat di samping kiri area parkir bus yang membawa kami ke Quezon City
pengeluaran pertama kami,..teh seharga 30 php
love the tea!
bus menuju Quezon City, dua jam perjalanan dari CLARK.300 php
ternyata memang sudah sampai Philipina ya...
Diatas segalanya, ini adalah pertama kalinya kami terbang berdua,
tidak sabar menanti untuk yang ke dua, ketiga dan seribu empat puluh tiga kalinya..
Maligayang pagdating sa Pilipinas!
Down to the earth I fell
With dripping wings
Heavy things won't fly
And the sky might catch on fire
And burn the axis of the world
That's why I prefer a sunless sky
To the glittering and stinging in my eyes
With dripping wings
Heavy things won't fly
And the sky might catch on fire
And burn the axis of the world
That's why I prefer a sunless sky
To the glittering and stinging in my eyes
(gordon,nina)
Monday, January 18, 2010
Kota Kinabalu: Kumpulan ingatan
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
18 Januari 2010malam terakhir di Kota Kinabalu
Mengingat sedikit banyak hal yang terjadi selama tujuh hari kebelakang,
tentang pasar malam, Adam teman baru kami di One Borneo, kegemaran baru kami si cincau susu, kadazan, jalan Gaya juga Fong Ip
Kemudian lagu yang dinyanyikan selama berulang-ulang di Gaya's Sunday Market
Gaya Street, Fong Ip cafe
18 Januari 2010malam terakhir di Kota Kinabalu
Mengingat sedikit banyak hal yang terjadi selama tujuh hari kebelakang,
tentang pasar malam, Adam teman baru kami di One Borneo, kegemaran baru kami si cincau susu, kadazan, jalan Gaya juga Fong Ip
Mas asli melayu yang agak galak sewaktu mengobrol di Philippine Market
Namanya Tossy
Si kecil yang suka menutup kepalanya dengan kantung plastik
Dengan keluarga besar Joday dari Sulu di Philippine Market pt.I
Dengan keluarga besar Joday dari Sulu di Philippine Market pt.II
Mencoba menebak mimpi
Dengan si cantik yang ramah.."Weeekk!"
Cumi bakar sepuluh ringgit
Tuna bakar kesukaan Indrawan
Nasib cumi dan tuna setelah setengah jam
Ini 'perkakas' untuk meramu kuah samball bernama 'Asam Jawa'
Philippine Market saat malam pt.I
Philippine Market saat malam pt.II
Philippine Market saat malam pt.III
Salah satu gambar favorit kami berdua
cantik ya?
Sayang sayang saya Kinabalu..
Kaamatan Pesta bulan lima..
sayang sayang kita pergi tamu,
jalan Tamparuli hati saya rindu
Thursday, January 14, 2010
Kota Kinabalu: Intermezo
Salah satu minuman paling berjasa dalam kehidupan kami berdua selama di Kota Kinabalu
Cincau susu Fong Ip Cafe
Wednesday, January 13, 2010
Kota Kinabalu: A New Way to Smoke Cigarettes
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
Berawal dari susahnya Indrawan berhenti dari kebiasaan yang satu ini, dan kemudian harga rokok yang mahal, maka munculah alternatif ini..
Keuntungannya,
selain tembakau ini beraroma kopi, untuk membuat satu rokok membutuhkan waktu sekitar satu sampai satu setengah menit,..jadi...semakin sedikit pula dia merokok..
yay!
Gaya Street, Fong Ip cafe
Berawal dari susahnya Indrawan berhenti dari kebiasaan yang satu ini, dan kemudian harga rokok yang mahal, maka munculah alternatif ini..
Tadaaaa!!
Membuat rokok sendiri
Keuntungannya,
selain tembakau ini beraroma kopi, untuk membuat satu rokok membutuhkan waktu sekitar satu sampai satu setengah menit,..jadi...semakin sedikit pula dia merokok..
yay!
Tuesday, January 12, 2010
Kota Kinabalu: Asia Adventure Lodge
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat (lebih) gelap
Dan ternyata memang kami tidak berpidah dari penginapan ini semenjak hari pertama kami datang ke Kota Kinabalu.
Terletak di jalan Gaya, dengan empat puluh ringgit semalam bisa mendapatkan ; handuk bersih, selimut (yang perbedaannya dengan handuk hanya berdasar ukuran saja), french toast dengan kopi panas untuk sarapan dan air panas untuk mandi..
ahay!
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat (lebih) gelap
Dan ternyata memang kami tidak berpidah dari penginapan ini semenjak hari pertama kami datang ke Kota Kinabalu.
Terletak di jalan Gaya, dengan empat puluh ringgit semalam bisa mendapatkan ; handuk bersih, selimut (yang perbedaannya dengan handuk hanya berdasar ukuran saja), french toast dengan kopi panas untuk sarapan dan air panas untuk mandi..
ahay!
pemandangan dari balik jendela di kamar nomor tiga
kumpulan bawaan kami yang memenuhi satu bunk bed
saat malam hari dengan bantuan lampu jalan
kamar nomor lima, sebelum kami memutuskan pindah ke kamar nomor tiga,
tanpa AC namun berjendela
mencoba peruntungan dengan mengais ngais wi-fi bocor
Ps. Penginapan ini ditutup pukul setengah satu malam dengan pemilik penginapan, seorang wanita paruh baya keturunan Philipina, tidur tepat di bawah meja resepsionis untuk menjaga pintu.Meninggalkan rasa bersalah yang amat sangat saat pulang larut dan mendapati beliau muncul dari balik meja dengan rambut terburai (dalam mode slow motion)
Kota Kinabalu: Lodge
Kota Kinabalu, Sabah, East Malaysia
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat gelap
Mungkin itu adalah kalimat yang memandu perjalanan dan memacu semangat kami mencari hotel murah selama di Kota Kinabalu.
Sebenarnya kami sudah duduk manis di dalam Hotel murah meriah berjudul 'Asia Adventure Lodge' dengan harga empat puluh ringgit semalam.
Tapi tentu,.. belum puas rasanya kalau belum menyisir kota (halah)
Kesimpulan,
Pertama, jangan pernah menjadikan buku pedoman bepergian sebagai kitab suci.
Meskipun itu adalah buku panduan bepergian paling yahud saat ini.
Karena kenyataannya harga-harga disana seringkali sudah naik bahkan hampir lima puluh persen, tapi tentu, tempat yang dianjurkan disana adalah tempat yang bisa dikatakan hampir pasti nyaman a.k.a layak huni
Kedua, terima saja kenyataan bahwa kita tidak bisa memiliki semuanya sekaligus.
Jendela, kamar mandi layak pakai, dinding bebas jamur, kasur yang masih terbungkus sempurna, akses dekat jalan raya, dan harga murah..
Ketiga, terima kasih atas pengertiannya meninggalkan Kasymir .. T.T
Gaya Street, Fong Ip cafe
12 Januari 2010
saat gelap
"Hotel murah hidup meriah"
-indrawan prabaharyaka
Mungkin itu adalah kalimat yang memandu perjalanan dan memacu semangat kami mencari hotel murah selama di Kota Kinabalu.
Sebenarnya kami sudah duduk manis di dalam Hotel murah meriah berjudul 'Asia Adventure Lodge' dengan harga empat puluh ringgit semalam.
Tapi tentu,.. belum puas rasanya kalau belum menyisir kota (halah)
dragon inn pt.I
salah satu penginapan paling murah yang kami jumpai,
sekitar 25 MYR/malam,
namun juga yang paling menyeramkan
dragon inn pt.II
Kotak surat di lantai bawah
Ruby inn
menurut salah satu sumber merupakan
hotel tempat bertemunya 'para binan' Kota Kinabalu
Aminah Inn
eerrrhh...lupa..
Ini bagian belakang hotel,..
caranya menjemur sprei justru membuat kami tertarik untuk masuk..hahay
Federal inn
Fine Bay Hotel
Victoria Hotel
Penginapan yang mirip PMI
Kasymir Rest House pt.I
salah dua penginapan paling murah yang kami jumpai,
tersedia berbagai pilihan,
mulai dari 35 sampai 18MYR..
Sayang sekali kamarnya tidak diabadikan *nyengir
Kasymir Rest House pt.II
tangga menuju kamar di lantai tiga..hampir tersesat
Summer Lodge Inn
Tetangga penginapan kami ..
Kesimpulan,
Pertama, jangan pernah menjadikan buku pedoman bepergian sebagai kitab suci.
Meskipun itu adalah buku panduan bepergian paling yahud saat ini.
Karena kenyataannya harga-harga disana seringkali sudah naik bahkan hampir lima puluh persen, tapi tentu, tempat yang dianjurkan disana adalah tempat yang bisa dikatakan hampir pasti nyaman a.k.a layak huni
Kedua, terima saja kenyataan bahwa kita tidak bisa memiliki semuanya sekaligus.
Jendela, kamar mandi layak pakai, dinding bebas jamur, kasur yang masih terbungkus sempurna, akses dekat jalan raya, dan harga murah..
Ketiga, terima kasih atas pengertiannya meninggalkan Kasymir .. T.T
Subscribe to:
Posts (Atom)


















































